Sesederhana alasanku tetap mencintaimu.
Tapi, aku masih belum paham, harus menggunakan bahasa apa.
Berulang ku tuliskan dirimu dengan bahasa ibu, tetapi tak pernah cukup memahamimu.
Haruskah ku menulismu dengan bahasa kalbu?
Seperti orang-orang yang baru saja kasmaran, menuliskan semua dengan bahasa kalbu ditambah dengan gesture tubuh yang hanya dimengerti oleh sejoli itu.
Sayangnya ini bukan hanya sekedar kasmaran,
Aku dan Kamu sudah seperti mentari yang datang setiap pagi dan pergi saat malam.
Atau seperti bulan yang datang saat malam dan pergi saat pagi.
Seperti embun yang menyapa helai daun setiap pagi.
Mungkin juga seperti air yang selalu jatuh saat hujan turun.
Semua sudah rutinitas.
Apakah emosi kita juga sebuah rutinitas?
Terbiasa untuk selalu tumpah saat kita sama-sama lelah, selalu memburu saat kita sama-sama rindu.
Ini bukan jatuh cinta biasa.
Ini lebih dari remaja yang mencoba untuk dewasa.
Kita punya cara berbeda untuk segala hal dan memaksa untuk tetap bersama.
Memaksa diri untuk dewasa saat raga ingin hura-hura.
Memacu hati untuk terus memahami saat otak kita hanya tahu bermain sana sini.
Sekali ini, bisa jadi yang terakhir.
Aku ingin diskusi
Kita sudah benar-benar dewasa saat ini.
Setidaknya sudah cukup untuk membahas apa yang diinginkan hati.
Tanpa emosi, tak perlu rindu, hanya butuh mata dan telinga.
Agar kita mengerti, ada rutinitas yang perlu kita benahi.
-Qky-
Pertemuan adl jawabannya.
BalasHapusYang serius dan benar setia tidak akan pergi.