Kamis, Desember 28

Menua

Terlihat bagaimana mata-mata yang pernah terang itu kemudian redup
Bahkan untuk sekedar menatap embun segar di pagi hari
Mereka yang pernah berandai tentang suatu mimpi
Akhirnya sampai pada titik yang disebut masa depan kala semangat itu tengah hidup.

Sama halnya seperti air yang tidak tahu kapan giliran untuk jatuh,
Menghadirkan sejuk bagi para kesepian
Resah bagi mereka pemilik kenangan
Dan takut bagi para pengeluh.

Mereka sengaja diam dan mengikuti apa perintah Tuhan
Tanpa bantahan, karena mereka paham bagaimana cara Tuhan bekerja
Termasuk tentang mimpi yang belum terlaksana
Sebagian akan menjadi terlupa, sebagian lagi akan ikut menua.

Saat kumpulan air hujan akhirnya turun
Berlomba siapa yang paling cepat menggapai tanah
Itu juga saatnya mimpi untuk bangun
Tinggal memilih, ingin lelah atau menyerah.

-Qky-

Senin, Desember 25

Manis

Aku begitu rumit membiarkanmu pergi
Meski aku tahu, seberapapun inginku memilikimu
Hanya akan menjadi bumerang untukku, dan juga untukmu

Kita memulainya dengan cukup manis
Aku suka sesuatu yang manis
Semanis saat aku mulai menyukaimu

Hanya saja terlalu banyak manis membuatku sakit
Sesuatu yang berlebihan memang dilarang
Mungkin seperti itu cara semesta melarangku menikmati rasa manis bersamamu

Hei kau,
Apa kau tau?
Aku ingin mengenalmu lebih manis lagi
Meski menyakitiku
Dan itu menyakitimu.
Aku egois bukan?
Karena aku terlalu suka rasa manis bersamamu

Aku punya saran,
Mari kita selesaikan ini dengan lebih manis
Lebih manis dari saat pertama kita berbagi hal manis
Atau lebih manis dari apapun yang pernah kita rasa manis

Karena aku suka sesuatu yang manis
Bagaimana denganmu?

-Qky-

Minggu, Desember 24

Maaf

Mari kita flashback sedikit tentang susunan kalimat yang baru saja kau ucapkan padaku.
Jika ku bandingkan, tidak jauh berbeda dengan saat kau sempat mengingkarinya.
Atau mungkin sama? Ya, intinya memang sama.

Semua tentang kenyataan bahwa aku yang beranjak lelah, kembali harus memahami dirimu kesekian kali.
Kita ini manusia lucu,
Bagaimana tidak, melakukan kesalahan sama secara berulang, kemudian akan datang dengan sapaan khas orang yang bersalah.
MAAF

Singkat Padat Jelas
Dan semua orang tau maaf berarti penyesalan
Penyesalan yang dilakukan berulang?
Kita ini manusia lucu.

Saat aku, atau juga kau
Berserah pada penyesalan dengan kata maaf sebagai perisainya
Atas nama rasa yang kita junjung, maka mudah kita terima perisai itu.

Lalu apa?
Lagi-lagi aku, atau juga kau
Mengikis perisai itu sedikit demi sedikit
Dan datang dengan perisai yang sama masih bernama Maaf
Kita ini manusia lucu.

Atas nama rasa yang kita junjung.
Sekali ini,
Aku butuh waktu untuk menerima perisai itu
Karena aku belum selesai, mengemasi serpihan Maaf yang kau hancurkan begitu saja.

-Qky-

Sabtu, Desember 23

Rutinitas

Aku ingin menuliskan dirimu dengan bahasa yang sungguh sederhana.
Sesederhana alasanku tetap mencintaimu.
Tapi, aku masih belum paham, harus menggunakan bahasa apa.
Berulang ku tuliskan dirimu dengan bahasa ibu, tetapi tak pernah cukup memahamimu.
Haruskah ku menulismu dengan bahasa kalbu?
Seperti orang-orang yang baru saja kasmaran, menuliskan semua dengan bahasa kalbu ditambah dengan gesture tubuh yang hanya dimengerti oleh sejoli itu.

Sayangnya ini bukan hanya sekedar kasmaran,
Aku dan Kamu sudah seperti mentari yang datang setiap pagi dan pergi saat malam.
Atau seperti bulan yang datang saat malam dan pergi saat pagi.
Seperti embun yang menyapa helai daun setiap pagi.
Mungkin juga seperti air yang selalu jatuh saat hujan turun.

Semua sudah rutinitas.
Apakah emosi kita juga sebuah rutinitas?
Terbiasa untuk selalu tumpah saat kita sama-sama lelah, selalu memburu saat kita sama-sama rindu.

Ini bukan jatuh cinta biasa.
Ini lebih dari remaja yang mencoba untuk dewasa.
Kita punya cara berbeda untuk segala hal dan memaksa untuk tetap bersama.
Memaksa diri untuk dewasa saat raga ingin hura-hura.
Memacu hati untuk terus memahami saat otak kita hanya tahu bermain sana sini.

Sekali ini, bisa jadi yang terakhir.
Aku ingin diskusi
Kita sudah benar-benar dewasa saat ini.
Setidaknya sudah cukup untuk membahas apa yang diinginkan hati.
Tanpa emosi, tak perlu rindu, hanya butuh mata dan telinga.
Agar kita mengerti, ada rutinitas yang perlu kita benahi.



-Qky-

Masa Lalu

Bukan bermaksud mengungkit masa lalu Kadang, saat sedikit terpuruk saja aku langsung sombong dengan pengorbananku Sementara bagimu, mungki...